”Polsek Lubuk Linggau Selatan Ringkus 5 Pelajar Pelaku Tawuran, Satu Bilah Celurit Diamankan.”
INFO SILAMPARI | LUBUK LINGGAU – Harapan para remaja pelaku tawuran di Simpang Periuk untuk merayakan lebaran dengan penuh kebebasan tampaknya terancam sirna. Tim Opsnal Polsek Lubuk Linggau Selatan baru saja memberikan “hadiah” berupa penangkapan cepat setelah aksi anarkis mereka viral dan meresahkan warga.
Muncul aspirasi kuat dari masyarakat yang geram: “Jangan cuma dikasih teguran, biarkan mereka lebaran dulu dalam sel!” Ungkapan ini menjadi cerminan betapa seriusnya dampak gangguan keamanan yang mereka timbulkan.
Gerak Cepat Tim Opsnal
Menanggapi video viral aksi tawuran yang terjadi di Jalan Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II, Kelurahan Tanah Periuk pada Minggu dini hari (15/02/2026), polisi tidak tinggal diam. Di bawah komando Plt. Kapolsek Lubuk Linggau Selatan I, Iptu Dedi Ardiyanto, dan Kanit Reskrim Ipda Hari Ardiansyah, petugas melakukan perburuan kilat pada Minggu malam.
Penyelidikan yang berbasis identifikasi lapangan ini membuahkan hasil:
Awal Mula Petugas mendatangi rumah remaja berinisial MA (15) di Marga Mulya. Di depan orang tuanya yang tertunduk lesu, MA tak berkutik dan mengakui perbuatannya.
Komplotan Terbongkar: Dari mulut MA, muncul empat nama lain: RO (18), SR (17), TA (16), dan ESW (16). Mayoritas dari mereka masih menyandang status pelajar.
Celurit di Balik Sofa: Bukti Niat Jahat
Drama penangkapan ini mencapai puncaknya saat petugas melakukan penggeledahan di rumah RO. Alih-alih alat tulis, polisi justru menemukan sebilah celurit hitam yang disembunyikan secara rapi di bawah sofa. Senjata tajam inilah yang digunakan untuk menebar teror di jalanan.
”Sangat disayangkan, mereka masih berstatus pelajar namun sudah terlibat aksi yang membahayakan nyawa dan mengganggu ketertiban umum,” tegas Iptu Dedi Ardiyanto.
Langkah taktis kepolisian ini mendapat dukungan luas. Masyarakat berharap proses hukum tetap berjalan tegak agar ada efek jera. Jika senjata tajam sudah bicara, maka “pembinaan” biasa dianggap tidak lagi cukup.
Kini, kelima remaja tersebut harus memper tanggung jawabkan perbuatannya. Pertanyaannya, akankah mereka benar-benar menghabiskan waktu hari raya di dalam sel sesuai keinginan warga yang telanjur resah?