Soroti Kebijakan Pengangkatan Pegawai SPPG jadi PPPK! Presma UIN Al Azhar Angkat Bicara
INFO SILAMPARI | LUBUKLINGGAU – Ketika Negara Terburu-buru Mengangkat, Tapi Lupa Menghargai Pengabdian. Sebagai seorang mahasiswa, saya melihat ada kegelisahan yang wajar di tengah masyarakat, khususnya di kalangan pendidik. Kegelisahan itu muncul ketika pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang relatif baru bekerja, dapat diangkat menjadi PPPK dengan pendapatan yang layak, sementara guru—yang telah mengabdi bertahun-tahun mendidik anak bangsa—masih harus melewati jalan panjang dan berliku untuk mendapatkan pengakuan negara.
Guru bukan sekadar profesi, tetapi panggilan pengabdian. Bertahun-tahun mereka mengajar dengan keterbatasan, menerima honor yang tidak sebanding dengan tanggung jawab, namun tetap bertahan karena keyakinan bahwa pendidikan adalah fondasi masa depan bangsa. Ironisnya, untuk sekadar diangkat menjadi PPPK, guru masih dibebani berbagai persyaratan tambahan seperti sertifikasi, PPG, dan administrasi berlapis yang tidak semua mampu mereka akses dengan mudah.
Di sisi lain, pegawai SPPG/MBG memang menjalankan tugas penting, tetapi perlu disadari bahwa program MBG sendiri masih memiliki tanda tanya besar terkait keberlanjutan jangka panjangnya. Program bisa berubah, berganti, bahkan berhenti sesuai kebijakan pemerintahan. Sementara guru, apa pun rezimnya, akan selalu dibutuhkan. Selama ada anak bangsa yang perlu dididik, tugas guru tidak akan pernah selesai.
Di sinilah rasa keadilan publik diuji. Bukan soal membandingkan profesi mana yang lebih mulia, melainkan tentang prioritas negara dalam menghargai pengabdian.
Ketika mereka yang baru bekerja sebentar dapat kepastian status dan kesejahteraan, tetapi mereka yang puluhan tahun mengabdi masih harus menunggu, maka wajar jika muncul rasa tidak adil.
Sebagai mahasiswa, saya berharap negara tidak hanya cepat dalam menjalankan program, tetapi juga adil dalam menghargai pengabdian. Guru tidak meminta diistimewakan, mereka hanya ingin diperlakukan dengan layak. Karena pada akhirnya, program apa pun bisa berhenti, tetapi pendidikan dan guru di dalamnya adalah denyut nadi bangsa yang tidak boleh diabaikan.